this is just a disgrace to the people…
(via lickypickystickyme)
1 Februari 2013
/Imajinasi lahir dari kumpulan ingatan yg sbelumnya pernah diliat, didenger, dirasa, diraba. Yg blm pernah di…, mana bisa?! (via @IFnubia)
2 Februari 2013
/Runtuhlah langit malam dengan manja, ujar asa.
/Karena vodka dapat diaduk dengan kopi tanpa basa-basi.
4 Februari 2013
/Gamang ketika binar langit terhampar pelan. Mengadalah pagi yang pantas dirayakan diam-diam.
/Tuk tuk tuk. Ada yang mengutuk kantuk. Ingatan yang tak sampai-sampai.
/Lepas pejam diguyur hujan. Terdiam. Tertawan.
/Bahkan bunyi kentut yang lebih kencang dari ekspektasi pun bisa mengagetkan. (via @absolutary)
6 Februari 2013
/Terperdaya surya rasa nostalgia.
/Aku ngerti banget gimana perasaan orang yang kebelet pipis tapi mager setengah mati. (via @absolutary)
9 Februari 2013
/Dinamika ruang jeda pada momen pemaknaan suatu rujukan kesadaran.
/Merujuk kesadaran kepada kenangan? Mestinya memang begitu kataku.
/Toh, hari esok tiada yang tahu.
/Siapa yang tahu esok hari nanti ada yang berbuah tangan sebotol vodka dari Balkan?
/Jadi apalah artinya masih terjaga di pagi hari akhir minggu ini tanpa ada @pramitaandini layar di televisi?
10 Februari 2013
/Tawa tertunda untuk di kicau kan di linimasa. Haha.
11 Februari 2013
/Antara aku, hari-hari yang telah lalu, dan pita perekat bermuka dua.
/Malam yang tak berkerelaan.
/Keterdamparan yang tiada akhir~
14 Februari 2013
/Bingung bingung bingung..generasi bingung~
/Terpaku. Jiwa-jiwa yang dipaksa bingung. Melongok dari jendela berkaca merah. Senantiasa linglung. Tak peduli jengah.
/Anak panah dari busur situasi, lengan seperti bagaimanakah yang telah pelesatkanmu hingga melesak di ini hari?
17 Februari 2013
/Mempersembahkan bualan kepada telapak kaki. Meneriakan realita kepada langit. Siang bolong menjadi apa ketika pagi buta?
/Menjadi tawa? Begitu idealnya. Menjadi tawa yang membuyarkan jejak-jejak embun pagi pada dedaunan rumput liar pinggir jalan.
/Kompleksitas dalam ruang diskusi yang udaranya dikondisikan
/Korban kesalahan bahasa siapa? Seluruh generasi. Corongnya siapa? Media. Penanggungjawab siapa? Bapak di atas sana. (via @IFnubia)
20 Februari 2013
/Ah, kalau begitu, biar aku dimandiin langit hitam yang pecah diam-diam itu sajalah.
/*sebelum mengetikkan huruf pertama dari kalimat ini dan sebelum mengunggahnya ke linimasa, tak sengaja aku menekan tanda bintang.
23 Februari 2013
/Lelap panjang yang dibuai badai lepasnya berujung lamunan.
26 Februari 2013
/Merindukan semacam obrolan sarapan pada suatu pagi berkabut di musim pancaroba.
/faking orgasm, ikutan selera pasar, anak panggung lupa ending, kegep lagi coli, lagi mencret dan ga ada toilet, oportunis, hipokrit, tai. (via @RUHLELANA)
28 Februari 2013
/Satu kurang dua kebanyakan.
1 Januari 2013
/Selamatkan malam tahun baru pemuja ilusi. Sudah berapa banyak hal kah yang kita tuduhkan pada hari esok?
2 Januari 2013
/media massa: katarak pada pikiran. media sosial: kontak lens tebal warna hitam. (via @metafiksi)
4 Januari 2013
/Sedang meraba kenangan pada sebuah puisi yang mencatatkan cerita tentang perjalanan dan reuni. Nostalgia berganda.
/Duit perlu buat makan, makan perlu buat cari ilmu, ilmu perlu spy hidup gak ngebosenin. Met makan siang. (via @iwanfals)
8 Januari 2013
/Mengeja entah menjadi wantah.
9 Januari 2013
/Dingin seperti ini enaknya menunggui api unggun sambil menunggu diseduhin kopi penuh rayu dan disuguhi penganan canda beraroma telur dadar.
/Lalu sempurnanya diteruskan oleh sebotol anggur penuh dongeng percintaan di ujung-ujung nyala-padam bara di unggunan.
/Kemudian mulianya berjumpa di tinggi peraduan purnama yang setelah hujan deras di balik pejam langit yang tertindih kecupan panjang kita.
/Hingga di ujung malam. Harusnya memaafkan itu kala senja. Kemudian diam-diam berjanji di pagi hari.
/Tak ada yang menyakitimu kecuali hatimu sendiri. ~ Mahatma Gandhi (via @tan_triam)
12 Januari 2012
/Suatu ketika tuhan pernah patah hati. Kemudian terciptalah semesta raya dari salah satu bagian patahannya.
14 Januari 2013
/Kenangan yang terbukti manis.
/Keinginan sederhana di dunia yang serba rumit. (via @FeriAmetiaP)
16 Januari 2013
/Lupa cara tidur.
21 Januari 2013
/Yang tak berbatas itu asa.
23 Januari 2013
/Seniman berlindung di balik idealisme. Idiot berlindung di balik birokrasi. (via @topazaditia)
25 Januari 2013
/Mencuri-curi pandang pada rembulan nyaris penuh yang terhalang atap beranda.
/selalu takut jatuh ke langit… (via @sayamaya)
27 Januari 2013
/Siapa yang dapat mengingkari aroma petai yang digoreng balado pada minggu pagi?
29 Januari 2013
/Anak kambing hitam menjadi bantal.
/Bantal harus digantung di jemuran. Apa daya jika langit murung?
/Padahal sedikit angin saja dapat membawa jauh terbang pikiran ke pelosok ketakutan atau tepian keriangan.
31 Januari 2013
/Di punggung kaki dendam-dendam itu bersemayam.
/Setelah ingatan tak lagi mampu menopang laju pikiran.
/Selamat pagi. http://twitpic.com/bzm3iv 
/Dan selamatkan pagi juga ibu-ibu muda wangi ceria dengan sepeda motor bertransmisi otomatisnya.
[video]
2 Desember 2012
/Api. Jingga. Seperti senja.
/Senja. Jingga. Ruang antara.
/Ruang. Jeda. Dihuni jiwa. Kita.
/Syalalalala. Syalalalala.
3 Desember 2012
/Hening. Dalam gegarukan selangkangan.
4 Desember 2012
/Langit pun terisak.
5 Desember 2012
/Aku terdiam. Rindu mengendap. Endap.
6 Desember 2012
/Perayaan itu tentang bagaimana sepatutnya menanggapi ruang jeda.
/Ah, ruang jeda di antara dua tungkai.
Antara pijakan dan fantasi.
Perayaan yang suara-suaranya tertahan.
Ekspresi yang dikultuskan.
7 Desember 2012
/Rerintik sepi menghujam angan.
9 Desember 2012
/Kerling juling.
/Cantik sela.
/Cendang pandang.
/Selamatkan malam pemuja ilusi. Ingatkah kita bahwa akal sehat tak selogis namanya. Ada jeda antara indera & rasa. Makna, pangkat dua?
/Polanya sama kaya anak SMA, eksistensi. Patungan beli pilox, coret di tembok “Boeroet”. Kini diganti 4sq, path. (via @IFnubia)
10 Desember 2012
/Selamat malam pemuja ilusi. Dengan pilihan yang bagaimanakah kita memuja?
/Menggandakan pandang pada suatu fenomena yang dialami. Dengan api. Yang dinyalakan. Kesadaran.
/Pada kenyataannya media hanya seolah-olah merasa paling pantas merepresentasikan keutuhan suatu sensasi pengalaman yang kompleks
/Jauh panggang dari api.
12 Desember 2012
/Selamatkan siang pemuja ilusi. Ingatkah engkau bahwa kita adalah jiwa-jiwa yang terpenjara di ruang antara?
/Antara makna dan kepentingannya. Antara tidak tahu dan tahu tidak. Antara lelap dan mimpi.
/Petrichor.

13 Desember 2012
/Diperdaya nada.
/Pantat bergunjing, soal menu santapan esok hari. Semoga mendapat asupan makanan berkandungan serat yang tinggi.
14 Desember 2012
/Selamatkan malam pemuja ilusi. Percayakah engkau bahwa ternyata benar adanya zombi?
/Jiwanya tertatih. Jalannya terseok. Lengan terangkat tangannya ke depan. Jangkauannya sebatas diperbudak.
/Duh, godaan ke barat.
/Aku disengat bara api rokok & hampir menumpahkan gelas kopi yang baru saja diseduh saat menemukan puisi patah hati sembilan tahun yang lalu.
15 Desember 2012
/Pekat kelabu gelagat langit tak jadi hujan.
/Gelegar buluh. Huh.
16 Desember 2012
/Terbiasa karena lupa atau lupa karena terbiasa? #keluh
18 Desember 2012
/Distilasi hasrat.
/Antara aku, bakpao dan sol sepatu.
19 Desember 2012
/Sebait jelang pagi yang pendiam. Bahkan dalam menangisi jiwa-jiwa kita yang malang.
/Selamat malam kemudian pemuja ilusi. Kapankah terakhir kali kita melihat muka telapak kaki?
/Merasa bisa berpijak dengan kepala, menapak dengan ujung jari?
/Semacam arak dari utara yang jauh sana buah tangan seorang kawan mengajarkan sesuatu tentang waktu. Jangan terburu-buru.
/Lalu terbentang asa ke barat.
/Duh. Keluh keluh bisu dalam debar.
21 Desember 2012
/Memang jaya bandarnya. Jaya pula hujannya dengan begitu deras. Sejaya rindu yang selalu terburu-buru.
/Bagaimana pun di negeri ini mobil dianggap simbol kesuksesan. Diperparah dgn buruknya transportasi massal. Jadilah macet keniscayaan! (via @BonnieTriyana)
/Sekarang kita menyumpahi lautan kemacetan. Besok kita lupa dan naik mobil pribadi lagi. Ayo terus membeli mobil! (via @nd_nir)
22 Desember 2012
/Selamatkan sore pemuja ilusi. Sudah begitu hebatnyakah kita hingga tak lagi segan mengutuki langit dan hujan?
23 Desember 2012
/Selamatkan pagi pagaralam.
27 Desember 2012
/Selamatkan pagi yang buta para pemuja ilusi. Bagaimana harusnya mengutuk sepi yang sendiri padahal dunia ada dalam genggaman katanya?
/Selamatkan malam pemuja ilusi. Sebegitu enggannyakah kita berkaca pada keluh-keluh yang dikicaukan di linimasa yang ini?
/Sebegitu enggannyakah kita berkaca pada keluh-keluh yang seolah semesta raya berpusat pada diri yang sendiri?
29 Desember 2012/
/Tangis langit menerpa muka selat sunda yang selalu terjaga.
/Pejam senja yang berpurnama. Mulialah perayaan, di ruang antara, antara tunda dan damba, antara biru dan abu-abu, atau entah jeda apa saja.
1 November 2012
/Pengar hingga sehari semalam.
/Di arak bulan sendu dari timur langit. Nestapa.
/Pura-pura tidak tahu. Lalu matikan lampu.
3 November 2012
/Gerimis tak sampai.
/Berangan. Menjadi mantra.
/Satu dua dan tiga. Enyahlah kembung enyahlah nestapa.
5 November 2012
/Selamatkan lepas pejam yang berkarat di tenggorokan yang berangin di pencernaan.
6 November 2012
/Ah. #keluh

/Terdengar mencicit begitu keras, beruang gorong-gorong tampaknya mulai belajar menggeram.
7 November 2012
/Buanglah sampah pada tempat dan waktunya.
/Terserah apa kata lidah. Tak peduli gunjing pantat pagi nanti.
/Apa-apa dibuang langsung di linimasa seakan tak ada waktu untuk mengendapkan perasaan. Zaman yang menyedihkan.
8 November 2012
/Selamat malam pemuja ilusi. Matahari sudah tenggelam sedari tadi. Di balik siaran di televisi.
9 November 2012
/Ditikam keangkuhan. Malam.
10 November 2012
/Tesis-antitesis-sintesis.
/Harmonis.
/Selamatkan malam pemuja ilusi.
Selamatkan jiwa dari keadaan menyedihkan ketika ruang dialektikanya semakin hari semakin lengang.
13 November 2012
/Harmoni-harmoni paradoks.
Menuntun kantuk.
Melarung warna di balik pejam.
Merah muda.
/Hijau hitam dan jingga.
Tersudut juga.
Pada ruang yang lega.
Hilang awan.
15 November 2012
/Menitipkan rasa. Pada kata. Kita.
/perjalananmu memang bukanlah perjalananku, namun harmoninya milik kita tentu saja. :) (in reply to @smellofoaks)
18 November 2012
/Lepas pejam bersenandung hujan.
19 November 2012
/Ini adalah hari di mana hujan tak harus lagi ditunggu.
21 November 2012
/Rasa bukan tuhannya.
Keagungan itu tak bersosok.
Namun berefleksi.
Analogi di mana analogi?
/Lalu ada yang datang dengan senandung pelan yang nyaris tak terdengar nadanya, hanya riangnya.
22 November 2012
/Selamatkan siang gaya hidup yang dihakimi lepas pejam yang pengar dan kehujanan.
26 November 2012
/Selamatkan malam pemuja ilusi. Ingatkah engkau bahwa kita adalah sesama penghuni ruang antara?
/Serupa kantuk yang tak dapat ditiduri.
28 November 2012
/Keakuan yang ternyata masih dalam perangkap botol shampo pantene anti ketombe bermuatan setengah penuh.
29 November 2012
/Bukan soal ada apa sesudah mati, tapi cara mati yang paling menyenangkan menurutku. Sudah punya belum? Hehe. Kalau sudah, mari kita berbagi.
30 November 2012
/Kabut bermuka dingin yang tersipu merona dibawah remang lampu jalanan
/Jingga menusuk tulang. Lengang.
/Oh. Cuaca bulan madu. Meledak asa berjuta warna di balik celana dalam bergambar awan kelabu.
Di muka selat sunda
Tidurku bermimpi
Cakap berjumpa dengan seorang janda
Yang senang mengganja
Ketika sore menjelang senja
Di muka selat sunda
Saat pagi sekali
Lepas pejam pada angin yang bawa asa
Dengan hujan mengada
Rindu tenang mendamba dekap
Di muka selat sunda
Tertegun sendiri
Berharap dapat mengerti akan diam
Dalam ombang terambing
Keterdamparan yang tiada akhir
Di muka selat sunda
Aku terkenang
Hutan hujan khatulistiwa sumatera
Yang mengalirkan syair
Hingga ke jauh keringnya jiwa
Di muka selat sunda
Seorang kawan seorang kerabat
Kirimkan pesan baik yang singkat
Berita tentang jeda
yang minta dirayakan.
Tenang perlahan perahu besar ini terus melaju
Hingga kugengggamkan kepal padamu langit
Ketika aku tak lagi tinggal di sana, di birumu
Aku yakin kau tahu
Kini aku berada di antara sampah dan bangkai-bangkai kenyataan
Namun apa yang kau lakukan hingga aku memakimu lagi dengan nyanyian
Kalau kau ingin pergi
Bawa saja semuanya
Agar semua tahu , aku bukan lagi pemimpi
Yang menenggak arak untuk bayang-bayang mu
28102003
Tuhan telah pernah berkhianat dengan kuasanya.
Lalu ia menebusnya dengan mencipta alam semesta.
Yang mengorbankan salah satu dari segala keagungannya demi fondasinya.
Coba tebak, apa?
1 Oktober 2012
/Bulan pengar. Penuh anggar.
2 Oktober 2012
/Api jingga dari korek api gas biru.
/Bulan merah jambu dari kabut malam.
/Hati rindu dari parasmu menawan.
3 Oktober 2012
/Ciye. Diledek angan.
4 Oktober 2012
/Bulan sendu menghujat aku pada sisa kecupmu.
5 Oktober 2012
/Selamatkan mimpi yang rasa ftv.
8 Oktober 2012
/Langit bergemuruh. Beruang gorong-gorong kota cuek saja.
10 Oktober 2012
/Hompimpa!
11 Oktober 2012
/Daripada keliru, lebih baik diam dulu.
12 Oktober 2012
/Mengaduk seduhan kopi dengan cuek.
13 Oktober 2012
/Pecah pada posisi yang tak indah.
/Menghela nafas di beranda, melepas angin di linimasa.
14 Oktober 2012
/Satu, dua dan tiba.
Tepat tiga dihantam rasa.
Dansa anak-anak dewa di belakang kepala.
Lenguh tersandar.
Rindu tersadar.
/Berkarat di dawai gitar.
Membusuk di muka jalan.
Menguap bersama mendung yang tak jadi hujan di sore yang berkeringat.
/Di ujung-ujung jemari bergetar.
Di ujung lidah tertahan riuh keluh yang diam.
/Minggu yang kesiangan, jalan-jalan dalam pejam.
16 Oktober 2012
/Mandi sore.

17 Oktober 2012
/Satu dua dan tiga ratus tiga puluh tiga ribu tiga ratus sembilan belas malas.
/Aku tak terburu-buru.
/Tapi pria di sampingku yang melahap nasi goreng yang kebanyakan kecap tampak sungguh kelaparan dan makan terburu-buru.
/Aku tak terburu-buru. Tapi di suatu pagi, aku ditanya ibuku, kapankah gerangan dia dapat berkenalan dengan calon mantu. Dia , katanya.
/Aku tak terburu-buru. Tapi teman mabukku harus pulang mengejarkan pekerjaan yang dari atasan yang besok pagi harus dikumpulkan.
/Aku tak buru-buru. Tapi tukang nasi goreng di hadapanku, menanyakan pedas atau tidak saja seperti dikejar hantu.
/Aku tak terburu-buru. Tapi tak lama lagi, katanya kurang dari dua minggu lagi, kampus biru di ganti gedung baru.
/Aku tak terburu-buru. Tapi yang mengantri di persimpangan, lampu merah menyala terang, tak peduli.
/Aku tak terburu-buru. Tapi orang-orang yang memperdagangkan omong kosong seperti kehilangan waktu untuk sekedar menggaruk kontol.
/Aku tak terburu-buru. Karena hidup sejatinya menunggu. Mati.
/Aku tak terburu-buru. Sebab senja pasti datang. Sebab pagi pasti menjelang.
/Aku tak terburu-buru. Sungguh aku tak mau. Namun jika di cumbumu terus terang aku tak mampu, santai.
/Aku tak terburu-buru. Seperti langit pada saatnya tinggi membiru, pada saatnya rendah menjadi kelabu.
/Aku tak terburu-buru. Sebab kontol sensitif. Jika digaruk terburu-buru, ya akibatnya kamu tahu.
/Aku tak terburu-buru. Seperti mereka yang seakan serba tahu.
/Aku tak terburu-buru. Sepertimu.
18 Oktober 2012
/Aku tak terburu-buru. Pada kantuk aku menunda kutuk. Dengan pejam.
/Mendung yang pecah di jendela belakang. 
19 Oktober 2012
/Pagi itu indah. Jika tak terburu-buru.
/Pagi itu indah jika pejam terlepas di pelukmu.
28 Oktober 2012
/Pilsener dingin semoga lekas sembuh setelah mandi.
30 Oktober 2012
/Selamat pura-pura tidur pemuja ilusi. Pada malam yang berbulan penuh.
31 Oktober 2012
/Pagi pengar di kampus biru. Billy selamatkan pagi. Burbubur.
/Karena pada malam harilah mata kucing tampak lebih cantik dari biasanya.
(via carissayufita)