24 Januari 2012
/Berhasil menyambungkan mimpi dengan jeda lepas pejam lebih dari dua kali itu ternyata melelahkan.
/Di perut penuh #keluh, di pejam penuh kamu.
25 Januari 2012
/Ah, merasa bersalah telah mengabaikan goda pohon delima di halaman depan beranda saat iring-iringan mendung terburu ke arah timur.
26 Januari 2012
/Kepada api oh kepada api.
/Yang mengembalikan keluh pada langit. Kepada api oh kepada api. Yang membakar pintu di tengkuk.
/Kepada api oh kepada api. Yang membakar ranjang kaku. Yang menelanjangi gengsi.
/Kepada api oh kepada api. Yang menjinggakan senja. Yang menguapkan embun pagi.
/Kepada api oh kepada api. Yang mengelabui biru. Yang membohongi kekasih.
/Kepada api oh kepada api. Yang membakar dada. Yang mengagungkan tuhan. Yang mewarnai selangkang.
/Kepada api oh kepada api. Yang di puncak-puncak tinggi. Yang di angkasa. Yang di belakang telinga. Yang di balik lidah.
/Kepada api oh kepada api. Yang mendistorsi suara hati. Yang mendesaturasi warna foto profilnya. Yang mendramatisir jelang pejam.
29 Januari 2012
/Rasanya saat itu aku menyembunyikannya di balik inisialmu. Ah, ternyata itu inisialku.
/Perlahan perlahan perlahan…
/Yang tertahan sedikit demi sedikit lepaskan. Yang terlepas sedikit demi sedikit relakan. Yang ada beri rasa. Yang tak ada jadi asa.
30 Januari 2012
/Oh, mendung yang pecah, dago yang rindang, dan nona manis pemalu bersepatu flat coklat yang sibuk dengan setumpuk dokumen entahnya.
/Limbung dengan senyum
31 Januari 2012
/Bangun pagi, mereka-reka, menuliskan rencana, di kertas bekas entah, pemantik, rokok, rencana dibakar, kepulnya diserahkan pada langit
2 Februari 2012
/Satu, dua dan tiga. Mulia kata, warna, dan nada.
/Aku ingat, kawan karib yang kemarin pernah bercerita soal pengalamannya menonton beberapa film bergenre horor dalam satu malam.
/Sensasinya sungguh mengerikan. Mengacak-acak teriakan. Lalu di ulu hati dan bulu-bulu remang. Begitu ceritanya.
/Lalu demi pagi ini terpikir lagi olehku. Adakah sensasinya lebih mengerikan dibandingkan kabar berita pagi yang dari televisi?
/Ya terpikir memang hanya pagi ini. Terkecualinya demi sabtu & minggu pagi, sepenuhnya rela pada pesona rupa suara dari @pramitaandini
/aku sedang ingin bertanya yang penting pada seseorang yang penting, tapi memikirkan waktu tepatnya juga tdk kalah penting. (via @sloppypoppy)
4 Februari 2012
/Ada yang pernah memuja sesuatu dengan apa pun!
/Dengan kata.
/Memuja.
/Hingga menghempaskan diri sendiri.
/Hingga menerbangkan kebusukan
/Jiwa mengerti yang lebih dari arti. (via @missviona)
/Ada yang meledak di utara, dengan diam.
/Ada yang mulia di kepala.. Ada. Aku tak bohong. Semoga kau percaya.
5 Februari 2012
/kita adalah makhluk di antara klan iblis dan klan adam (via @ruhlelana)
/Sepertinya seduh kopi boleh juga, di #genjreng pelan Shape Of My Heart-nya Sting, lalu mengira-ngira @pramitaandini pagi ini berwarna apa :)
/Jingga. Biru tosca. Merah muda. Ups. Biru langit mencemplung ke dalam kopi.
/Dan ya, @pramitaandini dengan BIRU di pagi minggu! Serupa dengan yang tadi mencemplung ke dalam seduhan kopi!
/Aksen biru di sudut timur. Untukmu. @pramitaandini

/Selamat jingga kota kembang.

/Seakan mentari begitu malas pulang di hari minggu ini.

6 Februari 2012
/Kepada langit biru dan tarian tarian di bawah tiang jemuran. Benderanglah benderang!
/setiap gembok rata2 memiliki 4 kunci. jika aku adalah salah satu kunci dan kamu gemboknya, aku tidak akan cemburuan. (via @ruhlelana)
/hidup itu sederhana jika segala kerumitannya selalu dirayakan. senang hati membuatnya mewah. (via @ruhlelana)
/Apa namanya kalau saat ini tiba-tiba aku ingin tahu rambutmu itu dicuci dengan sampo merek apa?
/Ini di bibir diam saja, di hati kenapa rasanya ingin teriak bernyanyi bagai sebastian bach?
7 Februari 2012
/Nada nada di mana nada di mana kata di mana rasa di mana nona di mana-mana anak kambing saya mencari nada nada.
/Pejam di mana pejam? Jika hendak didekap sekarang, mungkinkah dapat lepas sebelum pagi jam sembilan?
/Ini adalah zaman di mana fakta-fakta telah mati. Dan kita hanyalah jasad-jasad dengan realitas yang tak lebih mulia dari sebelumnya.
8 Februari 2012
/Segelas kopi toraja, sisa sisa buah tangan teman dari ibukota, obrolan dengan karib lawas, dan beberapa balasan pesan singkat darimu.
/Senyum
9 Februari 2012
/Pemujaanku yang kepadamu itu berupa ruang antara kita
/Jaraknya sebanding dengan omong kosong yang ku lebihkan takarannya pada seduhan kopi ketiga malam ini.
/Pemujaan yang kepadamu itu kadang sederhana, seperti petrichor yang berkelambu purnama di beranda.
/Di ujung dunia, tempat suara Tuhan terdengar paling nyaring, kamu akan menemukan cermin yg telah kamu buang dan melihat dirimu menyeringai. (via @missviona)
10 Februari 2012
/Selamat malam omong kosong
11 Februari 2012
/Sudah merona merah, menarik senyum pun sudah, kenapa paginya masih terasa dingin? @pramitaandini tampaknya belum sarapan ya? Hehe
12 Februari 2012
/Ah. Mana tahan. Pesonanya itu rupa sekaligus suara.
/Memecah mendung menjemput pejam, ibu jari kanan jadi kambing hitam bertanduk pendek dipatah zaman.
/Jatuh cinta itu soal ruang dan waktu. Ya. Ruang di senyummu, waktu di rambutmu yang tergerai dengan poni yang panjang.
14 Februari 2012
/Pagi yang merah jambu.

/Katanya di ibu kota apa saja ada. Cinta dan kasih sayangnya ada ga ya?
15 Februari 2012
/Miras boleh kawe. Tapi cinta dan kasih sayangnya jangan ditanya.
I love u like hank moody love fuckin karen, love #kode (via @gemil_marley)
/Terberkatilah ibu kota pada sore hari dengan mba-mba bermasker yang tak mampu menyumputkan keunyuannya.
/Kira-kira di sini benar-benar pecahnya tadi. Cc: @idanial

16 Februari 2012
/Ini baru namanya keintiman emosional antara aku dengan tiap-tiap fenomena di hari kedua di ibu kota. Cc: @idanial
17 Februari 2012
/Gontai tanpa belai.
/para penghuni kota nyaris dan pasti selalu lupa bahwa di kampung para petani menggadaikan hidup untuk menyediakan makanan untuk semua!!! (via @ruhlelana)
19 Februari 2012
/Terjebak rindu di pinggiran ibu kota
/Yang di pertanyakan hanya mendung dan hujan selain rindu. Ya pada langit malam yang tak berbintang.
/Aku hendak menjemput esok, di tempat pertama kali kau tersenyum, di sana langit basah perlahan, damba diterbangkan angan.