daily capture of smilepeace



Untitled

home, folks, hope, high, love, bull and shit, smile, sky, star, sun, moon, pleasures, peace, self, sense, nostalgia and existence.

alvanhafiz
smilepiss86@gmail.com









FollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowedFollowed

Theme by spaceperson Powered by Tumblr

klammer
Ketika Jatuh Perlahan dengan Muka yang Menengadah

Seakan semua bintang bintang yang ada di langit saling berebutan memaksa untuk memperkenalkan dirinya masing-masing kepadaku. Ah. Bintang. Ah. Kamu di mana kamu. Harusnya ada di sini bersamaku. Kita menjadi bintang sayang. Kita. Lalu menjadi mentari. Lalu bulan. Lalu bulan memerah jambu. Memekik. Padam hingga magenta. Aku tak bohong. Ia menjerit. Merdu. Mencoba membuyarkan awan-awan tipis yang sedari pagi menggodainya tanpa jeda. Dari tarian para balerina beraroma bidadari, hingga memijar-mijarkan pelangi ke segala penjuru dengan tak terduga. Langit ikut memerah. Awan semakin meriah. Tawa-tawa karib kerabat melatari tarian semesta. Yang untukku. yang hanya untukku. Ah. Di mana kamu di mana aku. Dalam pejam aku melintasi lorong yang dinding-dindingnya berdenyut dengan cahaya. Lepas pejam bintang-bintang seakan di gantungkan dengan tali yang tertiup angin dengan pola tarian yang entah. Bergoyang. Menyapa. Melambai. Berdansa. Perayaan. Bintang bintang berganti-ganti warna tanpa henti. Tanpa warna yang sama. Berganti-ganti dengan ritme yang aku tak tahu apa namanya. Semarak tawa nada canda dari mereka. Semesta indah sedang berdansa. Mengajak aku. Aku mengajakmu. Diam-diam. Dengan diam. Dalam hati. Tanpa kata. Nada. Warna.

05:49 pm, by smilepeace Comments

captured on tweet, twitter. #dcos /edisi 3 - 31 Mei 2012

3 Mei 2012
/Kinmungkinmungkinmungkinmungkinmungkinmungkinmungkincup

/Pengaruh di mana pengeruh!?

/I love you…. till the last tiny pixel. #wkwkwk (via @Pongkalem)

4 Mei 2012
/Dunia seakan baik-baik saja ketika kau tersenyum. Duh.

/Langit mendung.
Aku kadung.
Kamu merundung.
Tak ada tempat berselindung.

/sabar itu ga ada batasnya bro, kalo ada batas namanya ga sabar. (via @wahyucs)

5 Mei 2012
/Fitnah dan makian adalah cara paling nista utk meruntuhkan pendapat yg tak kita setujui. (via @gm_gm)

/Oh bulan penuh.
Padaku purnama dingin bekelambu awan.
Melagukan diam-diam.
Untukmu.
Semoga mekar berbunga di balik pejam.

6 Mei 2012
/Ada mendung yang membungkam. Kemungkinan indah dari matahari tenggelam. Di kelopak sendu matamu.

/Senja mendung, di beranda kota.

7 Mei 2012
/Lalu, kenapa aku? Ya karenamu.
/Ya, padamu.
Sejarah-sejarah telah bungkam.
Langit cemburu.
Bulan penuh minder.
Rona senja.
Keluh tersenyum.
Langkah tertawan.
/Damba merejan nada-nada asa.
Asa reka aba-aba.
Degup-degup kehilangan jeda.
Memendam remuk redam tak cukup ruang.

8 Mei 2012
/Mukremukremukremukremukremukremukredamdambatertawankamu.
/I found god in your eyes.

/Keselek. Bekal khayal. Darimu.

9 Mei 2012
Kenapa aku. Ya karenamu. Tak bohong. Tak bohong. Tak bohong aku.

10 Mei 2012
/Pecah aku di tawamu. Pecah jadi seribu. Berulang berkali.

11 Mei 2012
/Selamatkan pagi yang begitu terburu-buru saat menjelang dari garis putih putus-putus di jalanan raya. Selamatkan pagi indonesia.

/Dan bagiku, mengabaikan itu bukanlah hal yang sulit. Namun untuk rela mengabaikan kamu, itu yg sama sekali tak mudah. Selamatkan pagi kamu.

/Ya. Selamat pagi. Kamu.



/Terperdaya. Terjerumus. Terjerembab. Terajana. Kamu.

/Merindu,tamparan hujan berselabut angin. (via @HarsyaKacak)

12 Mei 2012
/Ikut terkenang. Dari tembang seorang kawan.

13 Mei 2012
/Bahkan, bulan setengah di langit cerah itu juga kalah cantik dibandingkan kamu malam ini dik.

/Di barat, mendung terasa berat. (via @andicery)

/Nah. Sesuai dugaanku kan? Setelah magrib turun hujan.

/Kering dan mengkerut. Ingatan tidak pada tempatnya.

14 Mei 2012
/Dongeng itu dari tiap-tiap sudut bidang yang mejadikan utuh pesonamu.
Buaiannya kadang cukup hanya dari senyum candamu.
/Lalu setiap ruang antara aku dan kamu menjelma rindu.
/Denganmu.
Karena pada dasarnya kata kita itu menyatukan.
Satu.
Demi satu.
Menjadi satu.
Menjadi esa.

/Dewa api o dewa api.
Merajah hati.
Merajam sepi.
Rindu yang tak jua bertepi.
/Balada o balada.
Pada setiap jeda.
Aku hanya ingin kamu penuh puja.
/Menuliskanmu itu indah.
Semoga menjadi nada yang menarikan warna.
Damai dendam nenek moyang manusia.
/Ya. Dan asa ingin memadu harmoni pada setiap nyanyianmu.
Dan pagi akan selalu menjelang dari timur.
Bersenandunglah setidaknya!

/Lagilagilagilagilagilagilagilagilagilagilakukarenamu!

15 Mei 2012
/Gelap mata. Hati berseri?
/Oh. Pesona yang menjadi-jadi.

16 Mei 2012
/Rinduku jeli, lakumu ringan.

/Setiap ucapan terima kasih adalah pengakuan bahwa kita mustahil hidup tanpa orang lain. (via @hortradero)

/Selamat malam para reaksioner! Selamat disibukkan media popular dan hal hal remeh :D (via @elimgo)

/Membakar uang di pangkal tenggorokan. Terbahak. Mengejek detik demi detik yang dipertaruhkan demi entah.

/Tersandar. Di bayangmu.

17 Mei 2012
/Menduga-duga dalam damba.
Rebahlah senja sejuk berkat semesta.
/Dekaplah erat.
Biar aku berkawan bayang,
nona berkelambu puja.

/Pura-pura tidak rindu dengan lagu.
/Pura-pura tidak basah. Susah.

/Siapa yang memanggil hujan!? tanyaku pada kenangan.
Petrichor memaki punggungku.
Aku menyulut api.
/Ingatan-ingatan yang terpotong.
Kelebat cahaya-cahaya dalam pejam.
Aku pecah seribu.
Lalu saling menyumpah serapahi laku.
/Jeda sayup diam.
Rintik hujan kian menderu.
Buram.
Pejam merejan.
Notifikasi layanan pesan singkat.
Merah.
Lalu hening dalam genggam
/Kali ini hingga benar-benar diam.
Lepas pejam.
Ada harmoni, yang mempertanyakanmu.
Alasan tak akan menemukan jawabannya.

18 Mei 2012
/Perpecahan.
Pecah perlahan.
Kantuk dalam buaian ibu tiri tuhan.
Waktu dan tempatnya tak mampu digumamkan.
Pejam tertahan.
Rindu terdiam.

/Selamatkan pagi pesan singkat yang gagal melayani tanpa notifikasi.
/Selamatkan. Pagi yang rasa fermentasi damba. Kecut.

/you got younger age. but i know i am younger at heart. (via @sayamaya)

/Detailmu nyinyir perdaya aku.

19 Mei 2012
/Dambaku utuh, lakumu ringan.

/Kurindu jemu-mu, kutunggu rajukmu. (via @HarsyaKacak)

/Naik naik ke puncak gunung, tinggi tinggi sekali..

20 Mei 2012
/Piknik akhir minggu berbuah apa?

/Saatnya kembali kepada drama denting botol kaca obat batuk hitam spesial yang sebenarnya tak spesial sama sekali jika dibandingkan denganmu.

/Dengan cara apa dapat kau maklumi bahwa pada tiap-tiap pengalaman akan fenomena yang indah itu aku selalu mendambamu?
/Dan selamat menjemput pejam asa tanya yang tak berjawab, meskipun nanti benderang mentari pagi semua tak akan menguap.

21 Mei 2012
/Mungkin tak mungkin tak mungkin tak mungkin tak mungkin tak mungkin tak mungkin tak mungkin tak mungkin.
/Turunan panjang yang bukan arah pulang. Peduli diam peduli setan. Meski mencerap singkat kenang aku remuk redam.

22 Mei 2012
/420. Terperosok di lubang jalanan.

/Kopi tak jadi. Dengan anggur dan ella fitzgerald sore berganti. Jeda memujamu, dalam hati.

/You”ll shine like gold in the air of summer :)) (via @Segarjakad)

23 Mei 2012
/Merayakan senja itu inginnya denganmu.
/Ya. Ingin merayakannya denganmu. Hanya denganmu.


/Ya dik, hanya denganmu. Hingga senja memerah jambu.

/Gila sih. Tapi kan jujur.

/Akal sehat mati. Ulah lakumu.
/Lakukan saja sebagaimana mestinya lakumu. Semesta memberkati. Aku padamu.

25 Mei 2012
/Satu jumpa tatap kita, seribu kali meledak kembang api di ulu hati. Aku. Yang seribu satu.

/Kemudian. Lupa segala sesuatunya. Lagi. Kecuali kamu.

26 Mei 2012
/Hai semesta, sudikah kutitipi untaian kode ini untuk dia? | @smilepeace (via @HarsyaKacak)

/Jinggakanlah langit hingga benar-benar padam.

/Cintaku padamu takkan berubah walau di telan waktu, biarlah kan kusimpan dalam hati, cinta yang suci, pasti kan kau sadari.. (nike ardilla)

27 Mei 2012
/Duh, bangun yang penuh lamun. Benderang minggu di seduh kopi beradukan kenang. Dendangmu semalam.

28 Mei 2012
/Duh. Bulan setengah sendu temaram di barat sana. Mau jadi apa?

29 Mei 2012
/Mendamba tamasya.
/Oh semerbak petrichor di beranda.

/Sia sia tidak. Kecewa pasti. Berlipat ganda.

30 Mei 2012
/Arah di mana kamu?

/420. Mengkerut. Mengering beratap mendung.
/420. Tabung gas tiga kilogram terdesaturasi.
/420. Ingatan di dominasi. Kamu.
/420. Lupa gunting kuku.
/420. Arah tak tentu yang gampang terbiasa.
/420. Aku tak peduli kemacetan.
/420 ditambahkan berapa hingga seribu? Lebihkan untukku satu. Biar seribunya untukmu.

/Oh sendi-sendi yang sendu. Demi dewa api, sungguh aku merindumu!

/Dan Tuhan itu tidaklah imajinatif wahai makhluk-makhluk bertuhan.

/Perayaan o perayaan. Semesta sendu di muka bulan. Asa menebar senyum pada langit. Benderanglah bintang gemintang.

31 Mei 2012
/Siapa yang memecah putih menjadi magenta dan hijau menyala ini? Oh dewa api dewa langit o dewa segala semesta yang aku puja.

/Menunggu kejutan. Dari timur.

/Tadiku menemukanmu pada bintang-bintang yg mengedap kedipkan berbagai macam warna-warna yg berganti gerak ke warna yg selalu berbeda.
/Aku. Sebagai aku saja. Yang tertawan pada langit, yang terbentang di lakumu. Berbunga apa yang engkau pejamkan kasih pujaan?

/Aksen kuning.

/Selamatkan pagi para pecandu nostalgia cc: @sgttripper

/Menuju hitungan dua puluh dengan langkah tertatih. Kamu di mana kamu?

/Raga berbatas. Asa siapa yang tahu.


11:18 am, by smilepeace Comments



Reblog
singlespark:

3 April 2012, I remember that I used to make this coral as souvenir and now I realized that how cruel that I am.

Reblog

singlespark:

3 April 2012, I remember that I used to make this coral as souvenir and now I realized that how cruel that I am.

10:11 am, reblogged from Rika by smilepeace1 note Comments

Reblog: Rika: Karimun Jawa dan Refresh the Friendship

singlespark:

Awal April lalu gue melakukan traveling ke salah satu tempat yang menjadi wishlist di tahun 2012: Karimun Jawa. Rencana ke pulau ini sudah dimulai setahun lalu semenjak salah seorang teman baik jaman kuliah ; Gita, mengajak kesana. Jarak Karimun Jawa yang cukup jauh membutuhkan waktu…


05:20 pm, reblogged from Rika by smilepeace1 note Comments

Langit, Bulan dan Aku

Langit cemburu

Ketika semua berujung kamu

Dari yang jingga

Hingga menjelang malam kelabu

Bulan tak rela

Bersembunyi dia di balik kabut

Aku termangu

Damba harus tertawan padamu

Aku yang gemar

Mendekorasi damba tentangmu

Dari apa pun

Pada ruang yang bagaimana pun

02:39 am, by smilepeace1 note Comments

captured on tweet, twitter. #dcos /edisi 31 Maret - 2 Mei 2012

31 Maret 2012
/420. Menyapa barat. Merindukanmu. Mereguk jingga.
/420. Vitamin C minor.

/Jalanan bergemuruh kelabu seperti biasanya. Para pemburu waktu. Akhir minggu.

/Bulu mata yang mendramatisir senja pada batas pandang.

1 April 2012
/Kenapa “nafsu kebinatangan” sering disematkan utk hal yg negatif? Padahal pada hampir semua binatang hanya mengambil secukupnya (via @ryuhasan)
/Ttg seks misalnya, manusia hanyalah satu dari bbrp gelintir spesies yg menikmati senggama sbg kesenangan, bukan melulu urusan reproduksi (via @ryuhasan)

2 April 2012
/Meng-kode yang di selatan. Menunggu yang di barat. Yang di hati tetap kamu.

/Duh. Mentari yang enggan pulang.


/Duh. Rembulan setengahnya terlihat menjelang penuh. Indah sendu seperti matamu.

/Angin laut oh laut utara. Gemerisik dedaun jati muda. Rembulan setengah mendamba purnama. Bintang gemintang bermain awan.

3 April 2012
/Terlena itu tadi pada keriaan-keriaan yang diam berlatar pesona bunga-bunga karang.
/Lalu seketika langit mencumbu laut.
Kecupnya tak terhitung.
Belainya sepanjang pandang.
Gelombang-gelombang mendesah lenguh.
/Aku yang di antaranya, mendambamu.
/Taritaritaritaritaritarimentari!

4 April 2012
/Yang di barat seakan enggan pulang.


/Yang di timur bulan menjelang penuh jalang.

/Kalau yang di hati tentunya tetap kamu dik bunga. :)

/Aku dan bulan menjelang penuh. Senyam senyum dan saling asik sendiri-sendiri.

5 April 2012
/Bagaimana mungkin pada setiap pengalaman akan hal-hal yang indah itu selalu mendambamu?


/Lagilagilagilagilagilagilagilagilakukuulahmu.

7 April 2012
/Ya, bulan penuh yang magis.
Dugaan-dugaan tanpa henti.
Jejak-jejak yang tersisa.
Aktualisasi.
Mengada.
Mengada.
Mengada.
Berada?

/Badambadambadambadambadambadambakupadamu!

8 April 2012
/Petrichor semerbak di beranda. Tawa-tawa diam di muka jendela plastik. Terang di selatan. Damba di barat. Setelah pagi benderang tadi.

/Damba itu sederhana, berupa keinginan untuk sekedar mengantarkanmu menjemput pejam atau sekedar menemanimu hingga dijemput pejam.

9 April 2012
/Senja yang merah jambu. Mempertanyakanmu.

/Karena mandi selalu istimewa. Semacam jeda. Seperti senja. Seperti pagi. Seperti kamu.

10 April 2012
/Hingga tuhan menjadi berkeping-keping. Lalu menghinggapi dan menggigit-gigit kecil pucuk daun telinga masing-masing kita. #batpoet

11 April 2012
/Kita hidup di wilayah penuh ancaman gempa — yg tak ada hubungannya dengan moral kita, tapi bisa mengingatkan kita utk tahu batas. (via @gm_gm)

/Menjemput malam pelan-pelan. Pejam. Kamu yang datang.

12 April 2012
/Memerah aku.
Satu dari perayaan.
Sisanya seribu dari candamu.
/Ya aku seribu satu.
Seribunya ya demimu.

13 April 2012
/Aku yang seribu satu. Ulahmu.
/Satu delik balasmu, seribu kupu-kupu mengerubuti tengkukku.

/Mengada-ada asa.
Ketakutan yang tanpa simbol raja.
Memperbudak dayang-dayang damba.
Oh mendung di lepas pejam.
Ada apa nanti senja?
/Dongeng dengungnya.
Dari semacam pengeras suara.
Dengan dendang mengalunkan.
Perjalanan jiwa renta kita.
Kesia-siaan oh tuhan.
/Mendung yang pecah di lepas pejam.
Teriak serak yang tertahan.
Peduli apa jika tak jadi hujan.
Tak urung aku lagukan kesendirian.
/Mengganda-gandakan.
Kegelisahan.
Menguapkannya seketika.
Dengan perayaan.
Api.
/Terpaku.

/Ah. Aku yang seribu satu.
/Ah ya demimu. Pemujaan-pemujaan yang menjadi pada setiap jeda.
/Hingga senja memantik api. Kala pagi percik embun.

/420. Hasrat menjalin tanya. Penantian apa yang semestinya.

14 April 2012
/Bulan setengah memerah jambu. Damba tak bergeming hanya padamu.

/Satu, dua dan tiga. Sisanya memujamu!
/Aku padamu dik bunga… Ini aku yang seribu satu.. !!!

16 April 2012
/Aku yang seribu satu. Satu entah kemana. Seribu tertawan padamu.

17 April 2012
/Hujan turun. Api mendistorsi.

/Apakah aku harus lari ke pantai lalu ke gunung lalu ke punggung kuda?

18 April 2012
/Sapa pagi dari jendela plastik demimu. Singkap tirai langit biru mentari yang cemburu.

19 April 2012
/Nada-nada dengan seribu kemungkinan.
Satunya aku.
Merangkai segala yang memungkinkan.
Ujungnya kamu.
/Seribu satu aku.
Damba yang mesti bisu.
/Firasat agak buruk.
Ah. Peduli apa.
Tuhan tak pernah tau apa rasanya jatuh cinta.

/Berdimensi kompleks. Dominasinya kamu.
/Bahkan jika dimampatkan hingga pecahku seribu, peduli setan aku padamu

/Samudera itu pesona biru yang melengkung dikelopak mata sendumu itu.
/Tempat di mana mentari menjelang datang dan pulang.
Mewarnai terumbu-terumbu karang.

20 April 2012
/420. Jendela plastik yang diam. Dihati remuk redam.

/Karena jatuh cinta tidak pernah biasa-biasa saja.

/Tiap mengganda pecah tawamu, di aku dikali seribu. Aku yang seribu satu

21 April 2012
/Oh, hari yang panjang. Tawa-tawamu yang terngiang.

22 April 2012
/Ayolah. Pecahkan. Ruang antara jendela-jendela plastik yang berpura-pura hangat ini.
/Berdalih. Berdalih. Berdalih. Pintu-pintu terkunci. Langit hitam. Dentum-dentum tertahan. Jendela plastik anti pecah.
/Nafas-nafas berantakan di lantai yang bukan dansa.

/Dengan matahari dengan matahari. Meronalah warna-warni dari pesonamu anak bidadari.

23 April 2012
/Anak kupu-kupu. Anak kupu-kupu. Mengerubungi penantian-penantian yang gagu. Kamu di mana kamu!?

24 April 2012
/Mungkin memang mestinya ke barat dulu,
dengan bekal pesonamu yang tak terbilang.
Aku memujamu dalam perjalanan pulang.

25 April 2012
/Tahu sesuatu bukan berarti tercerahkan ttgnya. Tahu hanya soal pertambahan informasi, pencerahan soal perluasan kesadaran. #ngasu (via @Air_Hati)

26 April 2012
/Kesadaran bahwa apa yang kita tahu dan dimana kita “berada” adlh saling terikat,penting u/ kterbukaan pikiran dan kerendahan hati. #cermin” (via @Air_Hati)

/Lalu aku bersandar pada bayang-bayang.
Diri sendiri.
Dari pijar temaram lampu meja.
Ada bulan sabit di pejamku.
Kamu.

28 April 2012
/Satu dua tiga citra.
Hitungan setelahnya menuduh diri.
Sinis menertawakan hari kemarin.
Hari esok seakan dalam genggaman.
/Di mana langit? Menengadahlah.
Langit cerah berbintang.
Ruang antara tak berbatas selain nafas.
Kemungkinan tak habis dihitung seribu.
/Genggam yang tak cukup.
Langkah yang berulang.
Keluh dicatatkan.
Mengada-ada kemudian senang.
/Oh. Penyembah api yang tak pernah rela terbakar.
/Duh. Pemabuk yang tersandar pada kesadaran.
/Ah. Bulan sabit dalam pejam.
/Drama-drama yang terbawa pulang.

/Karena kesadaran realita adalah soal ketetapan bahasa, maka berhati-hatilah mencipta kata.Karena ia menjadi pijakan apa yang nyata. #ngupil (via @Air_Hati)


/Karena kesadaran adalah wadah yang aktif mengikuti isinya, maka pilah-pilihlah apa-apa yang mau disadari terus-menerus #ngupil (via @Air_Hati)

/Senja yang ku damba pernah jatuh di sendu matamu.

/No i dont want to grow old with you, but i wanna stay young with you! (via @pramitaandini)

29 April 2012
/Tersandar sendiri pada senja yang lembut, mentari khatulistiwa seakan enggan pulang.
/Sisa sendunya diceritakan biru.

30 April 2012
/Lalu dengan warna, lalu dengan kata. Nada di mana nada?

1 Mei 2012
/O dewa api. Yang terkutuk tersudut pemujaannya, pada setiap keindahan yang ditampakkannya, pada kedigdayaannya, sendiri.

2 Mei 2012
/Ketika hujan menjadi ruang antara. Antara aku, damba dan kamu.

/Langit cemburu. Ketika apa-apa tentangnya berujung kamu.

12:58 pm, by smilepeace1 note Comments

captured on tweet, twitter. #dcos /edisi 19 Februari - 28 Maret 2012 

20 Februari 2012
/Bagiku senyum kamu itu apa-apanya. :)

21 Februari 2012
/Aku rasa, di ruang waktu yang tadi, tak ada satupun yang tahu bahwa tadi adalah ‘bad hair day’ bagimu.

/Mana di mana anak kambing saya, anak kambing saya di culik senyum nona!

/Antara aku, kopi instan setelah mandi, tembakau dari bali, beberapa tembang untuk bernyanyi, senja yang mendung, beranda yang dingin dan kau.

/di antara keriaan, selalu ada cinta yang dirayakan dalam diam.. (via @smellofoaks)

22 Februari 2012
/Nada-nada hujan memecah jalanan.
/Kadang kita lupa bagaimana syahdunya hujan.

/Kami. Hanya butuh nada, air mata dewa, dan sensasi jatuh cinta. Berkelambu cahaya purnama. Semena-mena kah?

24 Februari 2012
/Simpul senyummu itu menjadi berbelit dalam aksara.
/Menjadi-jadi dalam damba.
Menjadi anak kambing yang dicari-cari.
Menjadi senja merah jambu di musim penghujan.

26 Februari 2012
/Dekat dekat lalu dekap denganmu.

27 Februari 2012
/Mampatkan o mampatkan. Hingga ke relung dendam yang paling dalam.
/Mampatkan o mampatkan. Kemudian serahkan kepada api.

28 Februari 2012
/Oke. Tanpa capslock. Jatuh cinta itu sesungguhnya tidak pernah sederhana. Sungguh.

/Apa daya apa daya. Rindu hanya dapat menjadi mantra.
/Apa daya apa daya. Grogi enggan menjadi nada.
/Apa daya apa daya. Sensasinya tak mampu meraba warna.

/Arah ke selatan. Mantra rindu terangkaikan. Dengan nada terbata. Kata berbatas. Warna yang meragu. Tinggilah mentari siang nanti.
/Di lepas pejam, ada gurau yang tak biasa antara awan hujan dan mentari.

/apa kamu sedang tersenyum? (via @sgttripper)

29 Februari 2012
/Cinta itu tak kenal lama atau baru. Seribu rahasia dapat dipendam, tapi satu rasa harus diungkapkan. #ftv

/Damba yang pecah. Di ujung malam.
/Uh. Gerimis romantis dan muka-muka yang berkilauan.

/Huh! Berita palsu. Berita asu.

/Duh. Aku yang padamu dik..

1 Maret 2012
/Ah. Ini kenapa sih otak isinya kamu semua.

/Ungkap.
/Satu menjadi seribu.
Seribu menjelma rindu.
Degup-degup yang kehilangan jeda.
Kamu.
Menatap dari balik kelambu senja.

/Menunggu.
Di beranda.
Damba berbalas kata.
Tanpa pesan.
Tanpa aba-aba.

3 Maret 2012
/Di #genjreng sana sini. Oleh nada oleh canda.

/Mejikuhibi. Nila dan ungu. Untukmu.

4 Maret 2012
/Satu. Di balik pejam. Sadar tertahan. Seribu damba merejan. Kamu.
/Rasa. Di belakang telinga. Ruang keterasingan. Seribu ketakutan meremang. Ingin tahu.
/Tentang. Pertemuan mata. Saling menoleh. Senyum simpul tertahan. Kamu.
/Pesona. Di batas hari. Rona jingga langkah. Mendung pecah. Kilau bumi mewangi. Kamu.

/Pesan singkat berbalas hujan.

/apapun ideologinya kalau masih pengen hidup sebagai makhluk sosial maka menjadi tolerir adalah kewajiban (via @gemil_marley)

5 Maret 2012
/Bagaimana hendaknya tenang jika pesona yang menggoda itu kamu? Seribu istughfar pun tak kan mampu. Au.

/Tunggu menunggu hingga hitunga ke sekian ribu. Tak peduli tak peduli aku menunggu..

7 Maret 2012
/Yang kuliah pagi.. Yang kuliah pagi mana suaranya?

/Mata mengantuk hati bertanggang ini namanya.

8 Maret 2012
/Bulan penuh yang menangis. Rindu yang meringis. Kamu.

/Damba berdendang. Hujan yang mendendam. Purnama dia surukkan. Sadar tak teredam pejam. Kamu

/Grogi jahanam. Sedetik rasa sebulan.

/Dinamika oh dinamika. Drama oh drama. Seribu satu maki ganjarannya pun tiada arti.
/Pintas mengundang maki. Seribu caci merajai. Seribu istighfar mati.

10 Maret 2012
/Duh. Yang lagi melankolis. Aku yang padamu.

/Ternyata di luar dingin ya. Sama dinginnya dengan balasanmu. #keluh

12 Maret 2012
/Aduh, awas jatuh.

/Di sana di ikat setengah, di sini seribu degup memuja.

/Ada yang mau jadi purnama. Dipaksanya aku menengadah. Ah.
/Nona, tadi di barat ada apa, sudikah kau bercerita?

/Ya ampun. Kalau jatuhnya cinta sama kamu mana mungkin aku tak rela.

13 Maret 2012
/Mati aku. Di ikat setengahnya.

/Pulang. Petrichor. Dan sekilas pesona ikat setengahmu dari belakang.
/Oh. Malam yang panjang itu separuh nafasnya memuja jelang paginya. Separuhnya lagi tertinggal pada senja yang menjelang dari rona nona.

14 Maret 2012
/Pesonamu adalah indah yang sesaat tadi aku lupa apa nama ruang dan waktunya.

/420. Tanya. Ruang dan waktunya.
/Lihat. Barat lebam. Yang mendamba hingga remuk redam.

/Karekarekarekarekarekarekamu

/Ya ampun dik. Aku tak bohong kamu itu cantik.

16 Maret 2012
/Galat karenamu. Uh.

17 Maret 2012
/Rembulannya tersenyum. Untukmu. Cuma-cuma.

/Kamu berekspresi dengan warna, aku berekspresi dengan kata. Demi semesta. Mulialah asa. Mulia.

/Satu dua tiga asa menjadi kata menjadi debar saat ku lempar, ke jendela plastik bermuka anti goresmu. Uh.
/Bardebardebardebardebardebardebarkukarenamu.

18 Maret 2012
/Pejam dilepas paksa, oleh aroma wangi nasi yang sudah jadi.

/Dapadapadapadapadapadapadapadamuasaku

/Jatuh cinta itu tak pernah sederhana. Tak pernah. Tidak. Pernah.

19 Maret 2012
/Dan bahagia pun tak sesederhana itu atau ini. Bahagia itu kompleks. Sekaligus singkat. Seringkas kita terlelap di ujung mabuk.

/Selamatkan pagi indonesia raya :* siap untuk memulai dusta? Terhadap senin. Terhadap mentari yang redup!?

/Diam-diam aku meronta kegirangan. Ternyata sulit sekali untuk diam-diam gembira. (via @missviona)

/Lambung limbung.

20 Maret 2012
/Kepadamu ya kepadamu.
/Pecah aku di tawamu.
Menjadi seribu.
Dikali seribu.
Berulang berkali.
Setiap pecah tawamu.
Tadi.
Nanti.

/Sekian banyak pertanyaan soal cinta telah terjawab. Secara lugas dan rahasia. Aku punya jawabnya. Padamu dik. Sejarah-sejarah bungkam.

21 Maret 2012
/Padamu? Ya. Padamu. Tiada yang lain. Tiada lagi.

/Dan benderang. Mari menari di bawah tiang jemuran.

/Pura-pura menapak.
/Semalam aku bermimpi mendapati organ jantungku berada di dada sebelah kanan.

22 Maret 2012
/Ya sejuta langkah yang tertawan padamu. Pada pesona senja yang berpendar di lengkung garis kelopak matamu itu.

/Langit yang mendamba siluetmu.

/Riung - Dago, via Kiaracondong.

23 Maret 2012
/Saya menemukan aku padamu. Menggelikan.

/Dengan angin dengan angin kepadamu oh kepadamu. Dengan nada. Dengan serpih serpih asa.

/Ya mentari ya benderang. Sibak saja semua. Paparkan indahnya. Hingga ke sudut-sudut ruang pejam mata.

/Damba menghitam seiring mentari menjemput pejam.

/Benderang itu menerangkan. Hampir semuanya tadi siang. Hingga kekecewaan yang berganda. Jumpa-jumpa yang kemudan kembali tertunda.

24 Maret 2012
/Saat ini, di otak ini, hanya ada cuanki, dan kamu. Lalala~

/HAHA! Sesungguhnya penantian itu tak ada yang sia-sia. @sgttripper @fyrelcvalda @Gaudde

/Jinggaku padamu. Dari malam yang menjelang minggu.

/Ode untuk mantan.

25 Maret 2012
/Petrichor saat langit sudah benar-benar kelam itu harus dirayakan. Dengan apapun. Meskipun itu buah tangan dari mantan.

/Ada satu ruang dan waktu.
Di mana aku begitu memujamu.
Tempat di mana tiada satupun kata yang bersedia mewakili aku.
Merejan erang.

/Lalu memaki pada langit basah.
Mencaci pada langkah.
Berharap dibalas sumpah serapah.
Hingga pemujaan berkata-kata.
Apapun itu entah.
/*Aku terharu. Hujan menderu.

26 Maret 2012
/Asa-asa tak peduli damba. Damba pun semena-mena.

/Sukaku itu kepada gesturmu saat jalan terburu-buru.

27 Maret 2012
/Tadi ada seribu kupu kupu di punggungku berpendaran mendongengkanmu.
/Ah ya. Pejamku sedang norak.
Di dalamnya semua begerak.
Dari merah ke api.
Dari biru ke jingga.
Dari aku ke kamu.
/Tadi, pintu langit ada di punggungku.
Sebelum akhirnya dikerubungi kupu-kupu.
/Tadi. Ah. Tadi.
/Ah. Tadi. Tadi sore yang kelabu. Tapi darimu berpendar jingga dan ungu.

/Let me forget about today until tomorrow.. @sgttripper #genjreng

28 Maret 2012
/Cantik. Damba itu ingin melihat dari indah matamu dik.
/Ingin tahu itu merasa jatuh cinta dari matamu.
/Satu, dua dan tiga. Seketika hujannya membahana

01:50 pm, by smilepeace Comments


captured on tweet, twitter. #dcos /edisi 24 Januari - 19 Februari 2012

24 Januari 2012
/Berhasil menyambungkan mimpi dengan jeda lepas pejam lebih dari dua kali itu ternyata melelahkan.

/Di perut penuh #keluh, di pejam penuh kamu.

25 Januari 2012
/Ah, merasa bersalah telah mengabaikan goda pohon delima di halaman depan beranda saat iring-iringan mendung terburu ke arah timur.

26 Januari 2012
/Kepada api oh kepada api.
/Yang mengembalikan keluh pada langit. Kepada api oh kepada api. Yang membakar pintu di tengkuk.
/Kepada api oh kepada api. Yang membakar ranjang kaku. Yang menelanjangi gengsi.
/Kepada api oh kepada api. Yang menjinggakan senja. Yang menguapkan embun pagi.
/Kepada api oh kepada api. Yang mengelabui biru. Yang membohongi kekasih.
/Kepada api oh kepada api. Yang membakar dada. Yang mengagungkan tuhan. Yang mewarnai selangkang.
/Kepada api oh kepada api. Yang di puncak-puncak tinggi. Yang di angkasa. Yang di belakang telinga. Yang di balik lidah.
/Kepada api oh kepada api. Yang mendistorsi suara hati. Yang mendesaturasi warna foto profilnya. Yang mendramatisir jelang pejam.

29 Januari 2012
/Rasanya saat itu aku menyembunyikannya di balik inisialmu. Ah, ternyata itu inisialku.

/Perlahan perlahan perlahan…
/Yang tertahan sedikit demi sedikit lepaskan. Yang terlepas sedikit demi sedikit relakan. Yang ada beri rasa. Yang tak ada jadi asa.

30 Januari 2012
/Oh, mendung yang pecah, dago yang rindang, dan nona manis pemalu bersepatu flat coklat yang sibuk dengan setumpuk dokumen entahnya.

/Limbung dengan senyum

31 Januari 2012
/Bangun pagi, mereka-reka, menuliskan rencana, di kertas bekas entah, pemantik, rokok, rencana dibakar, kepulnya diserahkan pada langit

2 Februari 2012
/Satu, dua dan tiga. Mulia kata, warna, dan nada.

/Aku ingat, kawan karib yang kemarin pernah bercerita soal pengalamannya menonton beberapa film bergenre horor dalam satu malam.
/Sensasinya sungguh mengerikan. Mengacak-acak teriakan. Lalu di ulu hati dan bulu-bulu remang. Begitu ceritanya.
/Lalu demi pagi ini terpikir lagi olehku. Adakah sensasinya lebih mengerikan dibandingkan kabar berita pagi yang dari televisi?
/Ya terpikir memang hanya pagi ini. Terkecualinya demi sabtu & minggu pagi, sepenuhnya rela pada pesona rupa suara dari @pramitaandini

/aku sedang ingin bertanya yang penting pada seseorang yang penting, tapi memikirkan waktu tepatnya juga tdk kalah penting. (via @sloppypoppy)

4 Februari 2012
/Ada yang pernah memuja sesuatu dengan apa pun!
/Dengan kata.
/Memuja.
/Hingga menghempaskan diri sendiri.
/Hingga menerbangkan kebusukan

/Jiwa mengerti yang lebih dari arti. (via @missviona)

/Ada yang meledak di utara, dengan diam.
/Ada yang mulia di kepala.. Ada. Aku tak bohong. Semoga kau percaya.

5 Februari 2012
/kita adalah makhluk di antara klan iblis dan klan adam (via @ruhlelana)

/Sepertinya seduh kopi boleh juga, di #genjreng pelan Shape Of My Heart-nya Sting, lalu mengira-ngira @pramitaandini pagi ini berwarna apa :)
/Jingga. Biru tosca. Merah muda. Ups. Biru langit mencemplung ke dalam kopi.
/Dan ya, @pramitaandini dengan BIRU di pagi minggu! Serupa dengan yang tadi mencemplung ke dalam seduhan kopi!

/Aksen biru di sudut timur. Untukmu. @pramitaandini

/Selamat jingga kota kembang.

/Seakan mentari begitu malas pulang di hari minggu ini.



6 Februari 2012
/Kepada langit biru dan tarian tarian di bawah tiang jemuran. Benderanglah benderang!

/setiap gembok rata2 memiliki 4 kunci. jika aku adalah salah satu kunci dan kamu gemboknya, aku tidak akan cemburuan. (via @ruhlelana)
/hidup itu sederhana jika segala kerumitannya selalu dirayakan. senang hati membuatnya mewah. (via @ruhlelana)

/Apa namanya kalau saat ini tiba-tiba aku ingin tahu rambutmu itu dicuci dengan sampo merek apa?

/Ini di bibir diam saja, di hati kenapa rasanya ingin teriak bernyanyi bagai sebastian bach?

7 Februari 2012
/Nada nada di mana nada di mana kata di mana rasa di mana nona di mana-mana anak kambing saya mencari nada nada.

/Pejam di mana pejam? Jika hendak didekap sekarang, mungkinkah dapat lepas sebelum pagi jam sembilan?

/Ini adalah zaman di mana fakta-fakta telah mati. Dan kita hanyalah jasad-jasad dengan realitas yang tak lebih mulia dari sebelumnya.

8 Februari 2012
/Segelas kopi toraja, sisa sisa buah tangan teman dari ibukota, obrolan dengan karib lawas, dan beberapa balasan pesan singkat darimu.
/Senyum

9 Februari 2012
/Pemujaanku yang kepadamu itu berupa ruang antara kita
/Jaraknya sebanding dengan omong kosong yang ku lebihkan takarannya pada seduhan kopi ketiga malam ini.
/Pemujaan yang kepadamu itu kadang sederhana, seperti petrichor yang berkelambu purnama di beranda.

/Di ujung dunia, tempat suara Tuhan terdengar paling nyaring, kamu akan menemukan cermin yg telah kamu buang dan melihat dirimu menyeringai. (via @missviona)

10 Februari 2012
/Selamat malam omong kosong

11 Februari 2012
/Sudah merona merah, menarik senyum pun sudah, kenapa paginya masih terasa dingin? @pramitaandini tampaknya belum sarapan ya? Hehe

12 Februari 2012
/Ah. Mana tahan. Pesonanya itu rupa sekaligus suara.
/Memecah mendung menjemput pejam, ibu jari kanan jadi kambing hitam bertanduk pendek dipatah zaman.

/Jatuh cinta itu soal ruang dan waktu. Ya. Ruang di senyummu, waktu di rambutmu yang tergerai dengan poni yang panjang.

14 Februari 2012
/Pagi yang merah jambu.



/Katanya di ibu kota apa saja ada. Cinta dan kasih sayangnya ada ga ya?

15 Februari 2012
/Miras boleh kawe. Tapi cinta dan kasih sayangnya jangan ditanya.

I love u like hank moody love fuckin karen, love #kode (via @gemil_marley)

/Terberkatilah ibu kota pada sore hari dengan mba-mba bermasker yang tak mampu menyumputkan keunyuannya.

/Kira-kira di sini benar-benar pecahnya tadi. Cc: @idanial



16 Februari 2012
/Ini baru namanya keintiman emosional antara aku dengan tiap-tiap fenomena di hari kedua di ibu kota.  Cc: @idanial

17 Februari 2012
/Gontai tanpa belai.

/para penghuni kota nyaris dan pasti selalu lupa bahwa di kampung para petani menggadaikan hidup untuk menyediakan makanan untuk semua!!! (via @ruhlelana)

19 Februari 2012
/Terjebak rindu di pinggiran ibu kota
/Yang di pertanyakan hanya mendung dan hujan selain rindu. Ya pada langit malam yang tak berbintang.
/Aku hendak menjemput esok, di tempat pertama kali kau tersenyum, di sana langit basah perlahan, damba diterbangkan angan.

01:17 pm, by smilepeace Comments

Aku Lupa, Di Mana Kita Akan Liburan?

“Ke timur. Ke sana. Ke arah angin sayang kita liburan”, ucapmu tanpa menoleh padaku sambil menunjuk-nunjuk ke selatan. Aku menenggak ludah sendiri. Sejenak kemudian kerikil entah yang terasa mengetuk ujung sepatu terdengar membentur bahu jalan. Dalam hati mulai mengutuk detail-detail yang tak pernah diam. Rembulan terang. Rembulan padam. Kutukku membatu beku di sudut waktumu. Di kanan masih terlihat pedagang kaki lima teriakan dagangan seakan memaki bangunan besar berkedok pusat perbelanjaan di seberang. Kejutan. Klakson kendaraan beroda dua dari belakang bersambutan dengan denting botol-botol pilsener yang beradu dalam bawaanmu. Sontak langkahku menyerong kiri, punyamu ke kanan, sebelum sempat aku mengiyakan dengan jawaban, “di mana kita akan liburan?”.

06:10 pm, by smilepeace1 note Comments

captured on tweet, twitter. #dcos /edisi 29 Desember 2011 - 23 Januari 2012

30 Desember 2011
/Seperti pernah melihat aku di sana.

/Deru dalam malu. Merah tak membiru.

31 Desember 2011
/Mimpi jatuh cinta.
Bangun kesiangan.
Tenggorokan dan selangkang sama gatal.
Sembelit.
Televisi.
/Linimasa.
Keluh.
Sindir.
Keluh.
Serapah.
Keluh.
Seolah-olah.
Asa sama dengan apa?

2 Januari 2012
/Sewindu lamanya kau simpan sendiri setengah punama aku rela jika untukmu.

3 Januari 2012
/Memuja pesonamu itu inginnya hingga gelap mata.
/Kita punya peran masing-masing. Satu dua tiga langkah kau melintasi garis pandang ini, sontak aku memujamu setengah mati dalam hati.
/Hingga ku puja kamu itu kebetulan. Istimewa bukan?

4 Januari 2012
/Demi bunga-bunga yang mekar dari lepas pejammu aku memuja.
/ibu jari dua, sejuta puja.
/Lima di kiri, di kanan lima. puja tetap sejuta.
/Auuuu.. bulan pun penuh baru setengahnya.
/Ah. Turunlah pelan warna warni yang tak tajam pada balik kelopak mata yang rawan.

/Lalu aku hanya ingin menjadi angin basah yang jingga ketika kau gerai ikatan rambut potongan sebahu itu demi samar lesung pipimu.

5 Januari 2012
/Kita mulai dengan melebarkan senyum.

7 Januari 2012
/Satu dua dan tiga, pecah di mana?

8 Januari 2012
/Merah delima di lentik bibirmu jadi terang di bulan, ah tak terbayang di sini jadi mabuk kepayang.

10 Januari 2012
/Pagiku lebih dari cukup.

/Selintasmu bagai seribu kali senja menjelang.

/cemburu itu tradisi bukan fitrah. (via @ervtra)

11 Januari 2012
/ketika bicara eksistensi dan esensi, mungkin saja kematian sama konyolnya dengan kelahiran.. (via @smellofoaks)

12 Januari 2012
/Kenangan itu pada rintih rintik rindu berupa gerimis romantis di lepas lelap yang berangin tadi. Ah. Jelang pejam yang gundah.

/Antara aku, hujan, kolak durian, dan entahlah.

13 Januari 2012
/Otakku buntu. Ujungnya kamu.
/Dahaga bukan. Rindu iya.

/Kepada wiski berwadah televisi.
/Dari langkah diam-diam beruang gorong-gorong.
/Seorang teman menggaruk kepalanya.
Dengan rasa penasaran.
/Seorang lagi mengangguk mengiyakan.
/Lalu semua pada keki.
Pada azan subuh yang terburu-buru.

/Selintasmu bagai seribu kali senja menjelang.
/Sebut saja namanya bunga.
Pesonanya rupa dan suara.
Setengah langkahku tertawan padanya.

15 Januari 2012
/Lalu, apa jadinya jika senyummu ditambahkan aroma aloe vera?
/Pesona tak terkira. Seribu senja menguap begitu saja.

17 Januari 2012
/kalau disini tiba tiba hujan. Tiang-tiang jemuran yang sedang menari seketika berhamburan. (in reply to @ervtra)

/Selamatkan malam jalanan basah. Jangan lupa vitamin C nya.

/Pesona itu tak setiap saat. Ketika datang masanya jumpa, sensasinya seperti warna senja berkelambu mendung. Hampir selalu.
Adamu di tepian pandang saja aku terkejut, jangan ditanya jika adamu di saku belakang.

18 Januari 2012
/Antara aku, pesona ayam pabrikan buah tangan sang kawan, rindu redam buah khayal pesona nona…
/…buih-buih minuman berkarbonasi yang menjadi bunga, lirih degup-degup grogi, belang tiga di beranda sepi, ingatan di ujung jemari & kau.

/Mulai nyinyir ya.
Semua dirasa.
Semua coba dinyana.
Satu dua tiga duga.
/Meledak di kepala.
Ulu hati juga.
Dengan diam.
Meledak sudah semua.
/Saat itu kau sudah pergi lama rasanya. Padahal singgahnya hanya satu jeda.
/Mulai lagu lama.
Lirik bertema cinta.
Cinta bertema buta.
Satu dua tiga kata.
/Terburu tidak.
Menanti iya.
Semesta menjelang senja.
Cukup satu sapa.
/Saat itu kau pernah kembali rasanya. Padahal perginya baru saja.
/Mulai sadar tersandar.
Pada nada rendah.
Langkah rasa berat.
Nafas rasa pengap.
/Arah ke timur mestinya.
Toleh sudah ke barat.
Malam tersengal.
Esok seketika dekat.
/Saat ini kau pergi sudah lama rasanya. Padahal jumpanya hanya satu jeda.

19 Januari 2012
/Yang jingga mempesona. twitpic.com/8934b9

20 Januari 2012
/Mau bilang rindu, tapi akal tak punya pintu.

21 Januari 2012
/Jatuh cinta itu sepele. Seperti aku yang menyerah pada poni nya yang panjang. :)

23 Januari 2012
/Hei, ada apakah gerangan di timur wahai awan-awan mendung yang terbang rendah dan terburu-buru?

08:48 pm, by smilepeace Comments

Nikmatnya Tidur Dengan “Istri Belanda.”

Setiap malam, sebagian dari kita terbiasa tidur dengan memeluk “istri Belanda” (Dutch wife) Alias guling. Tanpanya tidur tak terasa nyaman. Tapi di masa lalu, tak semua orang bisa memilikinya. Hanya kalangan atas atau priyayi. Kisah dalam novel Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer, menyentil kebiasaan itu…


05:18 pm, by smilepeace3 notes Comments


captured on tweet, twitter. #dcos /edisi 4 - 29 Desember 2011

4 Desember 2011
/Ya. Menjadi mudah karena api.

5 Desember 2011
/Belum lagi kering di hidung, sudah di basahi langit lagi.

6 Desember 2011
/Bahkan kabut pun enggan menguap. Oh, pagi yang gelap.

/Satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan sepuluh sebelas dua belas tiga belas empat belas lima belas enam belas tujuh belas. Dor.

/Mengantri di tengah ketergesaan itu membutuhkan jantung yang kuat dan sehat.
/Tapi apalah artinya penantian di tengah ketergesaan ini dibandingkan menanti jandamu?

7 Desember 2011
/Lalu siapa yang menggoda hingga memerah itu rembulan yang hendak pulang? Siapa?
/apapun jg kalo dilakukan terus menerus bisa menjadi candu (via @ruhlelana)

8 Desember 2011
/Mentari benar-benar telanjang ketika seduhan teh telur terhidang.

/Ada rindu yang pecah pada dedaunan yang ditelungkupkan angin pada latar kelabu menjelang senja membentang.
/Menjadi nada-nada yg diam, nelangsa yang tak dapat diterjemahkan, langkah-langkah yang terburu, sekilas ibu jari kaki tampak membiru.

9 November 2011
#batpoet
/Aku tak menemukan diri di dalam pejam yang semalam,
kehilangan setengah nafas di malam sebelumnya,
tersedak di dalam mimpi.
/Mimpi menjadi muntah.
Demi bekal khayal tentangmu.
Bukan peraduan kita.
/Memaki lemah sisa air mata dewa saat bulan mati.
Salah langkah.
Tentangmu menjadi awan sebelum mentari tinggi.
/Menjadi hujan sebelum jelang senja, menghadang jingga, melebur biru.
/Aku tahu mantra tak akan jadi apa-apa.
Tak akan.
Tak jadi.
Tak apa.

14 Desember 2011
/Benderanglah bunga-bunga di sudut-sudut mata.
/Merah jambu bisu.
Nada-nada membiru.
Hitam bekukan malam.
Sisa purnama disembunyikan nostalgia.
Mentari akan menjelang di selangkangan.
/Ejakulasi dini menampar kekhawatiran.
Kemungkinan kehilangan warna.
Menguning jemu.
Menjingga penantian.
Mantra-mantra penuh maki.
/Meludah di lantai dansa.
Mencari merah di langit.
Pahit di langit-langit.
Manis di simpul dekat senyum yang tak sengaja.

/Mendung berbunga api menjadi genangan di lantai beranda.

/Yang dari kiri sekarang pindah ke kanan. Berjejak seujung senyum

15 Desember 2011
/Hitung sebelas tiada arti. Waktu takkan habis dinanti.

17 Desember 2011
/Sangka siapa menjadi jumpa? Jumpa siapa?
/Aku tau. Namanya. Sebut saja bunga.

19 Desember 2011
/Harusnya ini adalah minggu pagi dengan pesona audio visual dari @pramitaandini di layar televisi.
/Harusnya ya, ini pagi minggu berlatar terang namun kelabu. Tanpa hujan tapi mentari enggan mendominasi.
/Harusnya ini minggu pagi yg meringkuk di pinggiran ranjang dgn sisa dengkur yg telah diseduh di gelas plastik hijau berukuran sedang
/Harusnya ini minggu pagi yang menerima pesan singkat darimu di ujung bunga anggrek putih dan remah-remah pesta yang telah mengembun.

/Antara aku, hujan, anggrek mekar, jumpa-jumpa yang diam, sipu yang saru dan kau.

20 Desember 2011
/Ternyata. Semalam aku mimpi jatuh cinta.

21 Desember 2011
/Racun serangga pun tak mampu membunuh kantuk. Racun apa yang bisa diberdayakan selain yang bekal khayal darimu?
/Bangsat-bangsat yang di tenggorokan, lelaplah kalian dalam makian yang tertahan
/Setengah pejam berceletuk pelan. Merindu pada pagi sabtu.

22 Desember 2011
/Selamatkan pagi semua kita yang di bawah kendali ilusi, ya makhluk yang menapak di dunia antara.

/Usai satu, jelang seribu. Semesta oh semesta. Berkatmu ku damba.

/Kemudian akan mengendap di mana ketika semua sudut sudah tak lagi dalam pandangan?
/Maka mulialah sisa mekar melati tadi di pagi yang basah berkilauan.
/Maka mulialah jelang petang yang berpelangi di langit, penuh maki di jalanan
/Maka mulialah malam yang biasa saja tanpa gemeletuk itu.
/Maka mulialah lepas nyalang pada celetuk nostalgia berkat semesta yang mengada tak terduga.

24 Desember 2011
/aku hanya berniat mengiringi nafas pagi yang dengan lembut memecah siluet jingga mentari yang merona di timur tadi. (in reply to @sgttripper)
/Karena pagi tak akan pernah menjadi biasa-biasa saja.

/Tak ada yang lebih gila daripada merindu orang yang tak kau kenal. Dan rasa ini cukup sakti untuk menghangatkan sarapan basi di pagi hari. (via @alfin_akhret)

25 Desember 2011
/Selamatkan pagi indonesia yang di televisi.
/Selamatkan pagi juga untuk indonesia yang di linimasa :*
/Selamatkan pagi juga beranda yang tak bersaturasi.

/Tuhan, lihatlah, Kamu perlu branding consultant tuh, sebelum lebih banyak lagi orang menjadi sinis melihat agama, lalu jadi ateis deh. (via @fadhlif)

26 Desember 2011
/Benderanglah mentari dari wangi pucuk-pucuk melati dan doa-doa seorang pemimpi

27 Desember 2011

/Pesta!? Haha!

.

/Yang tak peduli, tak mengenal pergantian hari, bersandar pada kenangan, melengkah berjinjit, merindu bernaung mendung.
/Yang terkantuk di sudut canda, mereka-reka gairah di mata adinda, memaki pada jalanan raya yang lengang, tersandung alas kaki sendiri.
/Lalu menengadah langit tak berbintang, pun tidak berbulan, pun tidak bermimpi, langit-langit lebih menjanjikan, katanya, kata mereka.

28 Desember 2011
/Mengada antara lupa dan ingat. Kamu.

/Rindu itu adalah ruang antara penggorengan dan pinggan.

29 Desember 2011
/Menahan kencing.

12:40 pm, by smilepeace2 notes Comments